ASI? Semua pasti bisa kok

“Tessa… gw hamil”,

“wowww.. congrats ya sayyyy.. alhamdulillah… trus mau asi kan? lahiran mau normal kan? jangan lupa yaa banyak baca dari sekarang, beli literatur-literatur mengenai kehamilan, asi, menyusui dan teman-temannya, ikut forum-forum di internet yang ngebahas hal-hal tersebut diatas”, komen saya langsung panjang lebar setelah salah satu sahabat saya mengabari bahwa dirinya hamil. Sebut saja namanya Bunga. Yappp.. Bunga, sahabat saya hamil. Bunga ini baru menikah 4 bulan sebelum dinyatakan oleh dokter bahwa dirinya hamil. Jadi termasuk kategori ‘tokcer’ lah ya. Memang dia bilang bahwa pengen langsung punya baby, ga mau nunda-nunda. Okelah.. menurut saya itu hak masing-masing pasangan yang menikah la yaaa. Kalau saya sih dulu pengen nunda dulu dengan dalih pengen ‘pacaran’ dulu, pengen jalan-jalan berdua dulu, pengen ngumpulin duit lebih banyak dulu. Hal-hal yang menurut saya sah-sah aja, karena toh menurut saya jaman sekarang punya anak itu ngga gampang. Ngga mentang-mentang udah sah menurut agama dan hukum negara terus hajar maning bikin anak. karena menurut saya punya anak itu ibadah. Dan ibadah itu harus dilakukan dengan sungguh-sungguh, dengan niat yang tulus ikhlas dan tentu dengan bekal pengetahuan yang cukup dan benar. Hal itulah yang saya dan Fadli terapkan ketika kami memutuskan untuk hamil.

Ketika saya hamil, alhamdulillah saya punya teman-teman yang bisa saling memberikan pengalaman ilmu pengetahuan terkini mulai dari rumah sakit bersalin, obgyn, informasi mengenai ASI, mengenai lahiran normal dll dsb. Kehamilan saya sambut dengan antusias walaupun saat itu agak kaget karena masih mikirnya wow cepet banget ya Tuhan kasih saya hamil dari saya dan Fadli memutuskan untuk hamil. Sekali coba langsung di kasih. Antara cengo dan bahagia. Oke… ini berarti rezeki titipan dari Allah. Karena pada dasarnya saya suka membaca (apa lagi sekarang baca ga harus dari buku aja tapi  dengan bermodalkan jaringan internet, bisa langsung ketik keyword, terbukalah pilihan bacaan yang pengen dibaca di layar komputer. Dari awal kehamilan kami memutuskan untuk memberikan ASI kepada calon bayi kami. Ya… ASI… ngga ada pilihan lain. ASI adalah sumber nutrisi terbaik untuk bayi. Dan saya percaya itu. Kenapa percaya? ya karena Tuhan emang sudah menciptakan sistem dengan sempurna, tinggal manusianya aja yang jalanin. Makin percaya karena saya rajin baca. Mulai dari teori-teori kesehatan mengenai ASI sampai pengalaman-pengalaman ibu-ibu lain di sekitar saya dan diseluruh dunia. Dan singkat cerita, Alhamdulillah saya berhasil menyusui anak saya sampai umur 2 tahun. Yeayyy.. Alhamdulillah, dengan modal ikhlas, semangat dan usaha,, ternyata menyusui itu SANGATTTT menyenangkan bahkan sampai kategori nagih. hihihihi. Semangat menyusui itu bukan cuma semangat niat aja, tapi semangat untuk makan makanan bergizi dan baca buku tentunya.

Oke.. back to the main topic. Tulisan ini sebenernya mau menceritakan tentang pengalaman si Bunga. Dari awal saya dengan gencarnya cerewet banget nyeramahin menyemangati dia untuk sejak awal kehamilan banyak-banyak baca buku dan cari info, kalau perlu konsultasi di klinik laktasi supaya lebih dalam lagi menjiwai ilmu tentang per-ASI-an. Kenapa saya segitu semangatnya? ya karena belajar dari pengalaman sendiri. Saya juga ibu baru, baru pertama kali hamil waktu itu. Dari yang ngga tau apa-apa, sampai jadi tau macem-macem karena saya niat pengen tahu dengan BACA dan NANYA. Dan pada saat prakteknya alhamdulillah ternyata teori-teori dari buku, dari pengalaman orang-orang, dari konsultasi di klinik laktasi, semua bermanfaat. Tapi harus digarisbawahi yaaa, baca buku bukan sembarang baca, tapi diingat dan dipahami, jadi bukan cuma mata aja yang baca terus ga di record di otak. Memang praktek kadang tidak sesuai dengan teori, tapi paling tidak kita udah punya bekal, dan kalaupun ada kendala, kita bisa menggunakan insting kita masing-masing. Sebagai contoh, posisi menyusui untuk masing-masing ibu bisa berbeda-beda, ada yang nyaman sambil duduk, ada yang terbiasa sambil tidur. Selama hal itu membuat nyaman dan sudah dilakukan dengan benar, insya Allah ngga ada hambatan lagi deh.

Singkat cerita, lahirlah bayi si Bunga melalui operasi c sectio dikarenakan umur kehamilan yang sudah lewat 40 minggu dan air ketuban yang menipis katanya. That’s another challenge. Menyusui di awal-awal kelahiran dengan partus c sectio itu punya tantangan tersendiri. Pasca operasi, sang ibu ngga boleh bangun duduk sampai 12 jam sesudah operasi. Terus belajar menyusuinya gimanaaaa?? Ya sambil tidur tentunya. Saya dah pesen-pesen nih sama si Bunga. “Santai aja ya say, operasi cesar ngga jadi kendala untuk langsung bisa menyusui kok. Ya emang posisi belajar menyusuinya jadi lebih rempong karena ngga bisa duduk, tapi tetep bisa kok. Saya waktu itu bisa kok”. (walaupun saya inget banget waktu abis operasi dan mulai belajar menyusui itu stress banget karena belom aja lama balik dari ruang pemulihan ke ruang rawat, udah banyak aja anggota keluarga dan sanak saudara yang antusias menyambut kelahiran anak pertama kami Kirana, alhasil Kirana stress karena baru brojol setelah 9 bulan berada di ruangan yang hangat dan tenang di rahim saya eh ujuk-ujuk langsung denger suara rame kayak pasar gitu dan kami pun ikutan stress karena Kirana nangis-nangis kebelet pengen nyusu tapi ngga bisa-bisa). Tapi dengan semangat belajar yang tinggi, alhamdulillah kami bisa melalui masa-masa sulit itu. Pasca melahirkan saya tanya sama Bunga,

“gimana udah belajar menyusui?”, tanya saya.

“Alhamdulillah udah, tapi ini bekas jahitan sakit banget gini ya? rempong deh”, jawab Bunga.

“ya eyalahh namanya juga perut abis di belek pasti sakit”. jawab saya. Yap… derita abis lahiran sesar itu adalah beberapa jam pasca operasi, disaat pengaruh obat bius mulai hilang datanglah cenat cenut yang sebenarnya dan rasanya luarrr biasa sakitnya. Tapi rasa sakit itu ngga mengurungkan niat saya untuk tetap gigih belajar menyusui loh. Makanya saya bilang kepada Bunga bahwa hal itu bukan alasan. Itu adalah bagian dari ibadah kita kok sebagai seorang ibu, perjuangan melahirkan anak kita.

Lalu Bunga bercerita bahwa payudaranya sempat keras banget sampai sakit dan meriang, istilah medisnya mastitis. Bunga juga bercerita bahwa saking kerasnya tu payudara sampai dia nangis dan akhirnya dibantu oleh suster untuk belajar memerah manual alias teknik marmet. Sebenarnya itu hal-hal yang lumrah dialami oleh ibu-ibu yang baru melahirkan walaupun ada juga ibu-ibu yang ngga terlalu mengalami kendala seperti itu yaaa. Dan sayapun tetap semangat memberi support kepada Bunga supaya jangan putus asa, karena saya yakin dengan niat yang kuat dan ikhlas pasti semuanya jadi mudah. Karena itu yang saya alami sendiri.

Satu minggu telah berlalu dari saat Bunga melahirkan bayinya. Saya, Fadli dan Kirana datang mengunjungi rumahnya karena mendapat amanat untuk mengantarkan kado  dari teman-teman kantor.  Singkat cerita, sayapun mendapat kesempatan menggendong bayi Bunga pada saat Bunga sedang sibuk menerima telpon dari tukang AC yang akan datang untuk pasang AC baru di kamarnya. Begitu saya gendong, saya langsung tahu kalo suhu badan si bayi di atas normal dan warna kulitnya pun kuning. :(. Lalu saya infokan kepada Bunga bahwa badan si bayi anget nih,,, dan cenderung kuning, Itu berarti si bayi kurang asupan cairan. Karena bayi umur seminggu jarang demam loh, dan kalau demam harus benar-benar di cermati. Saya juga sempat melihat cara Bunga menyusui, dan sepengetahuan saya caranya masih salah. Tapi kan saya juga ngga mau jadi orang sok tau dan sok menggurui loh yaaa. Saya cuma bilang dengan bahasa awam bahwa kalo menyusui itu lihat bentuk mulut bayi. Mulut bayi harus monyong dan yang dihisap bukan hanya puting melainkan aerola.  Karena kalau yang dihisap putingnya saja itu akan menyebabkan lecet karena pelekatannya salah. Awal-awal menyusui dulu sih puting saya juga lecet, tapi itu dikarenakan masih dalam fase sama-sama belajar  untuk si baby dan saya. Tapi ketika kita sudah dapat pelekatan yang benar, lecet tersebut berangsur-angsur hilang. Dan pelekatan itu kalo menurut saya bakalan keluar secara naluriah setelah tau teorinya kok.
Namun dari cerita si Bunga, dia itu susah sekali menemukan cara pelekatan yang benar. Akhirnya saya kembali menyarankan untuk konsultasi ke klinik laktasi. Sekarang udah banyak kok rumah sakit yang memiliki poli khusus laktasi. Jadi ngga sulit untuk mendaftarkan diri bertemu dengan para ahli laktasi guna mendapatkan ilmu yang benar. Dan katanya Bunga akhirnya datang ke klinik laktasi di RS St Carolus. Ya.. RS St Carolus terkenal dengan klinik laktasinya. Banyak bidan dan dokter yang dengan sangat baik dan sabar membantu para ibu yang ingin berkonsultasi. Tapi menurut informasi dari Bunga, setelah dia kembali dari konsultasi, dia mengalami kesulitan kembali untuk pelekatan. Hmmphh.. saya mulai gemes dengernya. Ya kok bisa sih? Padahal Bunga bilang payudaranya selalu bengkak sampai rembes, tanda bahwa badannya selalu memproduksi ASI. Jadi kesimpulan saya, Bunga itu kurang pede.

Satu bulan telah berlalu, bayi Bunga genap berusia 1 bulan tentunyaaa. Namun saya dapat kabar dari Bunga bahwa dia telah konsultasi kedua kali nya ke klinik laktasi di RS St Carolus, dan hasilnya tidak begitu memuaskan. Bayi Bunga  hanya naik 300 gram dari awal lahir hingga 1 bulan dikarenakan Bunga salah pelekatannya. Padahal seharusnya kenaikan BB bayi untuk 3 bulan pertama itu antara 650-1000 gram.  Dokternya bilang kalau dalam waktu satu minggu belum naik juga, baby si Bunga harus di tambah susu formula. Huwwaaaaaaaaaaaa…. sedih banget dengernyaaaaa..  Yang bisa saya katakan adalah ayo semangat Bungaaaa.. kamu pasti bisa kokkkk… Tapi Bunga lagi-lagi merasa dia kurang pede. Dia bilang dia pengen ada dokter yang tiap hari datang untuk kasih tahu dan membantu dia melakukan pelekatan yang benar. Hadehhhh.. ya mana ada kaliii yang kayak gitu. Lalu saya sarankan ya udah kalo kayak gitu Bunga harus datang tiap hari ke klinik laktasi untuk latihan intensif pelekatan.  Bunga pun mengungkapkan kesedihan yang mendalam karena dia sampai detik ini belum bisa menemukan cara pelekatan yang benar.. and i’m speechless…

Saat ini saya cuma bisa menyemangati Bunga untuk selalu berfikir positif bahwa menyusui itu adalah hal yang terbaik untuk memenuhi nutrisi bayi dan tidak ada pilihan lain. Tiap hari saya tidak bosan menyapa Bunga dan menanyakan bagaimana kemajuan pelekatan hari ini. Karena saya masih berharap Bunga selalu semangat dan yakin bahwa dia BISA memberikan ASI untuk bayinya sampai dua tahun kelak.

Bunga… SEMANGAT yaaaa!! kamu BISAAAA

 

 

 

 

Our Short Getaway part 5

Okay, this is our last day at Bali… Ya iyalaaahhh wong cuman dua hari gituuuu.. hihihihi. Pagi-pagi kami udah bangun untuk mengejar sunrise.. sayangnya sunrise ngga kelihatan kalo kita nongkrongnya di pantai seputar kuta seminyak. But it’s okay… yang penting kami pengen menyaksikan bangunnya si matahari pagi dari pantai. Bergegaslah kami menuju pantai double six, pantai terdekat yang dapat kami jangkau dari hotel. Niat awal sih  pengen berenang, tapi ujungnya ngga jadi deh. Saya memutuskan untuk main-main air aja dan jalan di pesisir pantai.

Hello sunrise.. muka-muka bantal belom mandi  datang menyambutmu

Hello sunrise.. muka-muka bantal belom mandi datang menyambutmu

IMG_6478 IMG_6474

Setelah menyambut sunrise di pantai, kami lanjut menikmati pemandangan rooftop swimming pool di hotel. Ya walaupun pemandangannya terhalang genteng-genteng rumah orang, tapi lumayan lahhh bisa lihat pantai diujung sana,

Pemandangan dari rooftop swimming pool nya Swiss Bel-inn

Pemandangan dari rooftop swimming pool nya Swiss Bel-inn

 

After breakfast dan mandi, sebelum check out kami memutuskan untuk ngopi-ngopi di pagi hari. Ceritanya saya tuh liat  instagram temen saya yang memposting foto dia lagi menikmati kopi di coffee shop kecil yang terletak di daerah seminyak. Dan katanya tempat dan suasananya enak banget. Jadilah saya penasaran. Dari keterangan di instagram temen saya juga yang bilang bahwa lokasinya ngga jauh dari Seminyak Square. Setelah mobil kami parkir di Seminyak Square, kami berjalan kaki untuk mencari si coffee shop ini. Dan bener aja, deket banget dari seminyak square, kurang lebih 50 m lah. Lokasinya itu di gang kecil, jadi mobil ngga bisa masuk kesini. Nama Coffee shop tersebut adalah Revolver Espresso. Alamat  Revolver Espresso ini berada di Gang 51 Jalan Kayu Aya No 3, Oberoi Seminyak, Bali.
Sebelum masuk, kami sempet bingung dan ragu, apa bener ya ini tempatnya. Kok cuma pintu doang gitu, ketutup banget sama tembok-tembok tak berjendela. Tapi begitu masuk, woooowww… langsung jatuh cinta sama suasananya. Emang bener, space nya sih kecil banget, tapi dibuat jadi dua tingkat model studio gitu. Karena di lantai bawah penuh, kami ditawarkan  untuk duduk di atas. 1 hot latte for me and 1 flat white for Fadli plus carrot cake untuk kami berdua. Konon kata mas barista yang melayani kami, Revolver Espresso ini yang punya adalah cewek Australia berumur 27 tahun. Dia yang merancang interior dan juga mengajarkan para baristanya membuat kopi. Keren banget ngga tuhhh. Revolver Espresso ini buka dari pukul 8 pagi sampai pukul 6 sore. Kata mas Barista lagi, tempat ini buka dari pagi sebagai alternatif pengunjung yang mecari sarapan. Tapi banyak yang mengira si Revolver Espresso buka sampai malam. Jadi banyak pengunjung yang datang di atas pukul 6 sore dan sudah tutup.

my latte, his flat white and carrot cake

Dan surprisingly, harga minuman kopinya menurut saya ngga mahal lah. Rata-rata satu cangkir minuman kopi dihargai Rp 30.000,-. Next time kami ke Bali, mau coba sarapan disini, karena kelihatannya menunya menggiurkan banget. Okeh.. we definitely will come back to this cool place.

Sampe hotel  lagi, kami bersiap-siap untuk check out. Huhuhuhu.. emang kalo diikutin ga puas banget ya ke Bali cuma semalem itu. Hehehehe.. ya at least lumayan deh memuaskan hasrat ingin berlibur sejenak dari rutinitas sehari-hari. Alhamdulillah our short getaway ini menyenangkan banget, kami diberi kemudahan dan kesenangan tentunya. Till we meet again, bali.

Our Short Getaway part 4 -Candlelit Dinner at Menega, Jimbaran-

our candlelit dinner at Menega Cafe, Jimbaran

our candlelit dinner at Menega Cafe, Jimbaran

Setiap ke Bali udah pasti banget harus dinner di restoran yang satu ini. Bermula dari beberapa tahun lalu saat saya, kakak saya dan beberapa teman-teman berlibur ke bali, diajak kesini sama sepupu yang kebetulan lagi kuliah di Bali. Saat itu sepupu saya itu ngajak untuk bersunset ria sambil menikmati hidangan seafood di pinggir pantai di daerah Jimbaran. Dan restoran yang paling laris menurut dia namanya Menega Cafe. Menega Cafe ini terletak di sebuah kompleks restoran-restoran seafood di jl Four Seasons Muaya Beach, Jimbaran. Restoran ini kalo saya perhatikan emang ngga pernah sepi! Alias rame terusssss.

Kenapa judul blog nya candlelit dinner ya karena emang dinnernya di meja yang cuma diterangi oleh cahaya lilin di malam hari ditemani langit pantai yang gelap. It is literally candlelit dinner.

Karena saya ingin memastikan untuk dapat tempat duduk, sehari sebelumnya saya udah melakukan reservasi by phone untuk dinner 2 orang pukul 19.30. Saat itu saya cuma disuruh taro nama aja tanpa dimintai nomor telepon. Agak ragu juga sih, cuma ya sudahlah mungkin emang cuma begitu prosedurnya. Sayapun juga ngga lupa nanya dengan siapa saya bicara. Dan begonya ngga saya catet jadinya lupa.  Dan bener aja begitu sampai Menega, sayapun mendatangi Pak Wayan, kayaknya sih dia acting as floor manager ya karena untuk semua orang yang udah reservasi by phone disuruh langsung mendatangi dia, dan ternyata nama saya ngga ada donggg dan pas ditanyain sama Pak Wayan dengan siapa saya reservasi, ya saya bilang lupa euuyy.. Kesel campur sebel rasanya, tapi Pak Wayan dengan baik hati menyuruh saya dan Fadli untuk pesen makanan dulu di depan. (Jadi di Menega Cafe ini sistemnya kita langsung pesen menu makanan yang kita mau di depan terus tinggal sebut meja nomer berapa, nanti makanan langsung dikirim ke meja). Tapi berhubung saya belum punya meja, saya cuma ninggalin nama saya aja sebagai bukti pemesanan makanan. Begitu selesai memesan, ternyata Pak Wayan sudah bisa memberikan meja untuk kami berdua di dekat pantai. Alhamdulillah.. thanks for the service ya Pak…

Setelah kami duduk, kami segera memesan minuman. Namun tunggu punya tunggu itu minuman ngga dateng juga. Padahal makanan kami sudah datang. Oiya kami memesan 1 porsi kerang yang di masak khas Menega Cafe. yang satu ini juara banget emang rasanya dan jadi menu favorit semua pengunjung yang makan disini. Kalau makan di Menega Cafe harus kudu jangan sampe ngga mesen kerangnya. Rasanya… ngga bisa diungkapin dengan kata-kata. Mendingan dateng aja langsung untuk makan disini. Selain kerang kami memesan udang dan cumi bakar. Dari pengalaman sebelumnya tiap mesen menu ikan ujungnya kekenyangan banget jadi walaupun habis berasanya kurang nikmat karena terpaksa ngabisin.

Kerang khas Menega Cafe yang enakkk dan nagih bgt rasanya

Kerang khas Menega Cafe yang enakkk dan nagih bgt rasanya

Setengah bakul nasi sudah tandas, tenggorokan kami mulai seret, minuman kami belum dateng jugaaaa… bolak balik manggilin pelayan untuk minta tolong cek dimana keberadaan minuman kami sampe Pak Wayan juga turun tangan nanyain apakah minuman kami sudah ada atau belum. Setelah di cek untuk kesekian kalinya oleh Pak Wayan minuman kami belum ada, doi ternyata langsung turun tangan sendiri ke dapur untuk bawain minuman pesanan kami. Aihhh luar biasa banget Pak Wayan ini pelayanannya. two thumbs up for you Pak, you really did a great job. Ditengah sedikit kekesalan kami karena minuman kami ngga dateng-dateng. ternyata si Pak Manajer (we assume) dengan pelayanan bak  hotel bintang lima turun tangan sendiri tanpa nyuruh-nyuruh bawahanannya lagi. Alhamdulillah, candlelit dinner kami memuaskan. Mulai dari makanan dan pelayanan yang diberikan Pak Wayan. :). Kami pasti akan kembali dan kembali lagi ke sini. PASTI.

Oiya, satu hal yang pengen saya infokan, tiap makan di jimbaran ini udah pasti banget pulang-pulang badan bau asep dari ujung kepala sampe ujung kaki, sampe baju, tas dan alas kaki. Hehehehe, ya gimana ngga bau asep, wong 90% menu makanan lautnya dimasak dengan cara di bakar. Tapi ngga mengurangi nikmat hidangan lautnya kok.

Our Short Getaway part 3 – Sunset di La Plancha-

Mungkin yang baca blog ini wondering ya liburan 2 hari aja postingan blog nya pake part 1,2,3 segala. Hehehe. Ya saya sengaja bikin part 1,2,3 supaya yang baca juga ngga bosen karena tulisan yang kepanjangan gitu.

Selepas kami dari makan di Motel Mexicola kami segera meluncur ke Hotel tempat kami menginap, karena waktu sudah menunjukkan hampir pukul 14.00. Kami check in sekalian pengen rehat sebentar secara perjalanan kami udah di mulai dari subuh tadi and belum sempet rebah-rebahan sama sekali. Ya itung-itung recharge our energy before our next stop in Bali. Oiya, kami menginap di Swiss Bel inn Legian.  Lokaisnya ternyata cukup strategis karena terletak di daerah legian dan dekat dengan area seminyak. Setelah sempet leyeh-leyeh sebentar, kami langsung berangkat lagi menuju La Plancha Beach Bar & Restaurant untuk menyambut sunset disana. Dengan mengendarai mobil dari hotel kami, ngga sampe 5 menit ajahh udah sampai di La Plancha. Lokasi La plancha ini terletak di pantai double six, bekas club yang tenar pada jamannya. Parkir di depan pantai double six, kami jalan sedikit untuk sampai di La Plancha. Karena waktu masih menunjukkan pukul  17.00, jadi kami masih mudah dapat tempat duduk, walaupum udah lumayan rame suasana La Plancha saaat itu. La Plancha sendiri adalah bar & Resto bergaya Sapnyol yang menyajikan makanan dan minuman ringan juga makanan-berat untuk menemani kita meikmati indahnya sunset.

IMG_6434

Payung dan bean-bag warna-warni di La Plancha

IMG_6428

ini dia yang namanya hongkang-hongkang kaki di atas meja.. hehehe…

Karena nanti kami mau lanjut dinner di Jimbaran, jadi sambil menunggu sunset, kami cuma memesan 1 porsi french fries, ginger ale untuk Fadli, dan lychee mojito untuk saya.

 

IMG_6437

Matahari semakin turun, tandanya mulai terbenam, Dan La Plancha pun semakin penuh didatangi orang-orang yang ingin juga menikmati indahnya sunset. Untung kami datang tepat waktu, karena kalo ngga, bisa ngga kebagian tempat duduk. Ahhh nikmatnya duduk leyeh-leyeh memandang matahari yang sedang terbenam ditemani oleh musik dari home-DJ nya La Plancha.

 

IMG_6443

Ketika matahari semakin terbenam, langitpun mulai terlihat gelap, dan lampu-lampu yang terpasang di payung-payung La Plancha pun mulai dinyalakan sehingga menambah indahnya suasana pantai saat itu.

IMG_6450

Sebelum beranjak pergi, kami menyempatkan diri untuk minta tolong mas-mas pelayan La Plancha untuk mengambil gambar kami berdua. Maklum ngga punya tongsis. Biasanya kalo foto berdua cuma bermodalkan tangan panjang dan lihainya Fadli. Well… Goodbye sun, goodbye La Plancha. Now it’s time to have our dinner at Jimbaran.

IMG_6453

Our Short Getaway part 2

 

Karena waktu masih menunjukkan pukul 11.00 waktu Bali dan gembel di perut kami belum juga berteriak-teriak minta jatah, jadi sebelum menuju tempat makan siang, kami memutuskan untuk jalan-jalan seputar daerah seminyak.

Kebetulan juga sempet browsing dari beberapa blog orang tentang toko pernak pernik lucu untuk isi rumah. Jadilah kita mampir ke toko Bali Zen . Toko ini menjual berbagai macam pernak-pernik rumah seperti cushion (sarung bantal), taplak meja dan serbetnya, sprei dan duvetnya, tas kosmetik. Dan semua bahannya berasal dari material yang ramah lingkungan. Untuk urusan harga, tentu ngga murah ya. Tapi sebanding lah dengan motif dan kualitas serta kepedulian terhadap lingkungan. Mata ini rasanya seger banget, dan bawaannya pengen beli aja semua barang-barang yang dijual di toko ini. Soalnya motif dan warnanya lucu-lucu bangetttt.

 

 

IMAG6445

IMAG6446

Warna-warni dan motif yang lucu banget

 

IMAG6448

Alamat Toko Bali Zen ini di Jalan Raya Basngkasa #40, Semiyak – tel. 0361-738815

 

Akhirnya saya membeli dua cosmetic bags dengan warna biru dan hijau muda. Satu cosmetic bag harganya Rp 65.000,-. Itupun saya beli karena mama nitip dibelikan dompet lucu khas bali. Berhubung liburan kami ke bali kali ini ngga mampir ke pasar tradisional, ya udah deh sejalian aja beli disini.

Pukul 12.00

Perut udah berasa agak kriyuk-kriyuk nih walau belum parah banget. Meluncurlah kami ke Motel Mexicola yang terletak di Jl. Kayujati No. 9 X, Petitenget Beach, Seminyak, Badung, Bali 80361, Indonesia. Hanya 5 menit ternyata waktu yang harus ditempuh dari Toko Bali Zen ke Motel Mexicola ini. Restoran Meksiko ini emang eye-catching banget dekornya. Menarik dan bikin penasaran sampe orang pasti pengen masuk ke dalamnya. Dekornya  ala Meksiko banget. Kita bakal berasa di tengah gurun meksiko yang gersang terus nemu 1 restoran untuk sekedar minum-minum atau makan. —>  Ini sotoy berat secara belom pernah main sampe Meksiko beneran gitu, Ya  tapi kan udah sering nonton pelem2 holywood dan telenovela loh, jadi kira-kira bisa lah ngebayangin suasana di Meksiko sana.

 

IMG_6414

Begitu masuk, kami segera diantarkan ke tempat duduk kami. Sebenarnya restoran ini memiliki area outdoor selain indoor. Cuma berhubung kami datang di tengah siang bolong, maka ngga ada pilihan untuk duduk di area outdoor kecuali pengen itemin kulit sekaligus sauna.

IMG_6377

Tempat kami duduk

IMG_6382

Setelah duduk kami diberi menu makanan dan minuman. Sampai detik itu, perut belum berasa lapar banget entah kenapa. Mungkin karena tadi subuh sebelum berangkat ke bandara, perut sudah di ganjal dengan sepotong roti dan di pesawat ditambah seporsi chicken rice. Wkwkwkwk. Jadilah saya memesan Quesadilla Del Pollo yang isinya ayam plus keju, dan Fadli pesan Taco De Camaron yaitu taco dengan isi udang, saos salsa dengan nanas, alpukat dan daun ketumbar. Untuk minumnya saya memlih Mangohito dan Fadli Unidentified. Pilihan minuman Fadli si Unidetified ini unik banget ternyata rasanya, karena isinya ternyata paduan raspberry, lychee, elderflower syrup dan potongan cabe jalapeno (cabe khas nya meksiko), dan semuanya dituang dalam air lemon soda. Yang bikin unik adalah rasa pedas dari cabe jalapenonya. Cuma ternyata taco yang dipesan oleh Fadli size nya itu super kecil, ukurannya 6 inci.  wkwkwk, ya our honest mistake deh ga lihat lebih detil lagi.  Overall sih makanan dan minumannya memuaskan rasanya. Semakin memuaskan ditambah dengan suasana yang beda ala Meksikonya.

 

 

IMG_6387

IMG_6388

Ini dia area outdoornya. Kalo dateng kesini sore menjelang malam, enak banget duduk-duduk disini

IMG_6396

Area outdoor dan bar

IMG_6412

Our Short Getaway part 1

Ehmmm.. Ini sebenernya super latepost yah.. Tapi better late than never kan..

Jadi ceritanya tanggal 3-4 Mei kemaren saya dan Fadli pergi ke Bali dalam rangka mewujudkan rencana kami berlibur dan nyari quality time untuk kami berdua tanpa Kirana. loh?!?! Tega amat sih anaknya ditinggal2 gitu? Ya ngga tega donk.. Karena emang kami seumur2 semenjak punya Kirana belum pernah pergi berduaan liburan gitu, dan kami pikir pergi liburan berduaan ini perlu karena untuk menjaga dan memelihara hubungan kami berdua as husband and wife. Pergi berduaan nonton film box office di bioskop sementara Kirana ditinggal dirumah sih ya pernah walau ga sering juga. Tapi kan ini beda ya, kali ini pergi berdua dan nginep tanpa Kirana. Ya karena semenjak punya Kirana kan saya sekaligus menyandang status sebagai ibu rumah tangga, jadi ngga terikat sama kewajiban-kewajiban sebagai karyawaan perusahaan yang mengharuskan dinas menginap di luar kota sampe harus ninggalin Kirana. Jadi setelah Kirana berumur dua tahun dan sudah lepas ASI sepenuhnya, inilah saatnya saya mencari ‘me time’ sekaligus juga mengajarkan Kirana untuk

Setelah melewati diskusi yang panjang dan lebar serta penuh pertimbangan dengan fadli, terpilihlah Bali sebagai sasaran short getaway kami. Dan sepakatlah kami untuk menginap 2 hari 1 malam!! (yaelahhh udah diskusi panjang lebar kirain liburannya mau seminggu lebih gituhh). Bwahahaha.. Yah namanya juga pengalaman ninggalin Kirana pertama kalinya pake nginep. Jadi sang ayah emang belum sepenuhnya tega ninggalin, apalagi kalo ninggalinnya lebih dari 48 jam. Yowes lah daripada ngga sama sekali, hayuk mari dijabanin (very) short getaway kami ini.Voucher menginap sudah ditangan. oiya untuk hotel kami memilih membeli voucher di salah satu situs online yang menawarkan harga discount yang biasanya berlaku untuk hotel-hotel baru. Dan untuk tiket pesawat, berhubung Fadli kerja di salah satu airlines yang memiliki fasilitas standby ticket untuk karyawannya, jadilah kami memanfaatkan fasilitas tersebut dengan mengharuskan kami untuk datang dan standby di check in counter di bandara dan menunggu sampai check in counter tutup untuk melihat ketersediaan kursi di jam penerbangan yang kami inginkan. Kirana kami titipkan pada kakek-neneknya dirumah. Ya ada untungnya juga kami masih tinggal bareng orang tua saya, jadi untuk urusan nitipin Kirana jadi lebih mudah.

Tanggal 3 Mei subuh-subuh berangkatlah kami menuju bandara. Berhubung short getaway kami ini bener-bener short, jadi kami berencana untuk memaksimalkan waktu liburan kami, jadi saya dan Fadli memilih untuk berangkat dengan jadwal penerbangan paling pagi. Alhamdulillah, kursi dengan jadwal penerbangan yang kami inginkan masih tersedia yaitu pukul 6.25. Berangkatlah kami cussss menuju Bali. Deg-degan sampe mual saking excited nya. hihihih norak ya kayak ABG lagi jatuh cintrong.

Kaki-kaki bahagia menunggu flight ke bali

 

8.35 waktu Bali.

Horeeeee… touched down at Pulau Dewata. Mendarat di Bandara International I Gusti Ngurah Rai dengan selamat. Alhamdulillah. Perhentian pertama kami begitu mendarat di Bali adalah Pantai Pandawa. Hmmm.. emang udah rada kesiangan sihhh.. tapi berhubung liburan kali ini tanpa anak, jadi ya cuek-cuek aja lah ke pantai di pagi yang terik, palingan kulit jadi gosong sedikit. Perjalanan menuju Pantai Pandawa dari Bandara memakan waktu 15 menit kayaknya. Kami soalnya lewat Tol yang baru itu loh.Yang menghubungkan Bandara dengan area Nusa Dua. untuk yang tertarik ke Pantai Pandawa, dapat melihat arahan menuju lokasinya disini

Gerbang Tol Ngurah Rai

 

Pemandangan dari dalam Tol Ngurah Rai

 

Memasuki area Pantai Pandawa, kami melewati tebing-tebing kapur seperti bisa kita lihat di area GWK. Konon dulunya pantai ini bernama secret beach karena lokasinya yang terpencil dan tertutup tebing, sehingga hanya segelintir orang, tentunya terutama wisatawan asing yang mengetahui lokasi pantai ini, dan dimanfaatkan untuk surfing, canoeing, atau sekedar sunbathing. Namun setelah semakin banyak orang yang mengetahui lokasi pantai Pandawa ini, maka pihak pemerintah daerah Kota Badung segera mengambil alih dan menjadikan pantai Pandawa ini sebagai salah satu obyek wisata yang terletak di Badung, sehingga dibuatlah jalanan yang lebih bagus dan dibangunlah patung-patung pandawa.

 

Mejeng dulu di spot paling tenar menuju gerbang pantai Pandawa

Mejeng dulu di spot paling tenar menuju gerbang pantai Pandawa

 

Sebelum turun ke pantainya, bolehlah selfie dulu sambil nunjukin pemandangan pantai yang indah di bawah  tebing

Sebelum turun ke pantainya, bolehlah selfie dulu sambil nunjukin pemandangan pantai yang indah di bawah tebing

 

Berfoto disalah satu patung Pandawa

Sesampainya di pantai Pandawa kurang  lebih pukul 09.05, dan matahari udah cukup sangat super panas. Tapi ya namanya turis yang baru pertama kali menginjakkan kaki ke pantai yang lagi famous ini cuek-cuek aja ditantangin sama matahari. Untungnya udah bermodal sunblock yang dioleskan di badan pada saat perjalanan menuju pantai. (walau kayaknya ngga ngaruh sih). Oiya, di pantai Pandawa ini kita bisa menyewa 2 kursi pantai dengan 1 payung seharga Rp 50.000,- dan bisa dipakai sepuasnya, mau dipake sambil nunggu kita berenang, surfing, canoing, atau berjemur sambil menyeruput kelapa muda langsung dari batoknya atau sampe kulit gosong juga boleh. Lumayan lah yaaa masih terjangkau harganya.

 

Setelah puas menikmati pemandangan pantai yang lagi super terik itu, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan kami berikutnya yaitu, makaaannn siang. Tunggu postingan saya berikutnya yaaahh….

 

Hari minggu di Kuntum Farmfield

image

Saya dan Fadli dari dulu emang sepakat untuk tidak memilih mall sebagai pilihan berakhir pekan bersama putri cantik kami, Kirana. Kenapa? Ya karena kami pengen Kirana dekat dengan alamnya, tanpa harus dicekoki dengan kebiasaan orang-orang kota pada umumnya yang menjadikan mall sebagai tempat menghabiskan akhir pekan bersama anak-anaknya. Kemudian Ya tentu yang paling utama  supaya hidup lebih sehat tentunya. Menghirup udara segar secara langsung di ruangan terbuka pastinya lebih sehat dibanding menghirup udara ber-ac dan didalam gedung. Alasan berikutnya adalah menumbuhkan rasa sayang dan empati Kirana terhadap sesama makhluk hidup, bisa menikmati kicauan burung, mendengar suara bebek dan melihat bebek berjalan beriringan dengan kawanannya tanpa harus mengejar2 bebek sampai bebeknya ketakutan, mendengar suara kambing dan sapi,  menghirup segarnya aroma rumput, harumnya bunga-bunga, sejuknya air sungai dan sebagainya.

Maka setiap hari saya selalu putar otak untuk cari informasi mengenai tempat-tempat dan kegiatan-kegiatan outdoor yang bisa menjadi pilihan kami untuk mengajak Kirana berakhir pekan.

Terpilihlah Kuntum Farmfield . Kuntum farmfield ini paduan antara peternakan, nurseries, gallery dan perkebunan. Lokasinya juga ga jauh kok dan mudah dijangkau. Dari tol jagorawi kita ambil arah bogor. Setelah pertigaan lampu merah bogor, belok kiri ke arah tajur. Lurus aja ikutin jalan sampai kita lihat plang Kuntum Farmfield di sebelah kiri jalan. Belok kiri langsung masuk deh ke lokasinya.
Untuk HTM nya Rp. 25.000,-/orang. Untuk anak 2 tahun ke atas udah bayar full, kalo anak dibawah 2 tahun masih free. Setelah membeli tiket, kami langsung masuk ke area peternakannya, namun sebelumnya ada pemeriksaan tiket sekaligus diberi topi ala caping pak Tani. Tapi ini sih ga wajib ya, cuma option n lucu-lucuan aja. Oiya jangan lupa bawa sunnies yang keren yak karena selain emang panas udaranya, bisa sekalian gaya kalo foto-foto. #eaaaaa.

image

image

Udah kayak pak n bu tani belum?

Begitu masuk area peternakan, kita disambut oleh lenguhan sapi dan kambing serta domba yang mengembik. Oiya kita bisa kasih makan sapi, kambing, domba, marmut dan kelinci. Kita juga bisa memberi susu untuk anak domba, kambing dan sapi.
Harga satu botol susu untuk domba Rp. 5.000,- dan untuk sapi Rp. 10.000,-. Sedangkan bila kita ingin memberi makan marmut dan kelinci, 1 bakul sayuran dan wortel harganya Rp.5000,- dan 1 ikat rumput ilalang untuk makanan sapi dan domba Rp. 5000,- juga. Murah meriah kan? Dengan bayar seharga tersebut kita bisa sekalian ngajarin anak kita untuk lebih dekat dengan binatang.

image

Kirana sibuk memberi susu untuk anak domba yg udah mulai abg ukurannya hehehe

image

Kelincinya suka sekali makan wortel yah.. pantes matanya sehat

image

Marmut-marmut kelaparan menunggu Kirana memberi makan sayuran lezat

image

Sapinya ga brenti ngunyah rumput

Setelah puas bermain dengan dengan marmut,  kelinci, domba dan sapi, kami berjalan menuju kawanan bebek yang berjalan menuju sungai buatan yang ada di dalam area peternakan.

image

Kami mengajak K untuk melihat perilaku para bebek yang berjalan berkawanan menuju sungai. Bebek aja bisa berjalan rapi yah, kita manusia sering maunya jalan sendiri tanpa mengindahkan peraturan yang ada.. hehehehe .. lucu deh melihat bebek-bebek itu berjalan rame-rame menuju arah yang sama, ngga saling dorong dan ngga ngacir ke mana-mana alias teratur. Di dekat sungai tersebut juga terdapat kandang ayam.

Oiya, kata salah satu petugas Kuntum, nantinya akan ada ternak kuda dan rusa lho! Waaa bakalan makin menarik lagi dan bertambah jenis binatangnya.

Terakhir, kami mengunjungi area perkebunan. Di perkebunan ini, kita katanya bisa memetik hasil panen  tanaman sayuran sendiri loh. 1 bakul tanaman sayur yang kita panen dihargai Rp. 60.000,- kalo ga salah. Dan semua tanaman sayuran disini organik! Pilihannya ada pak choy, lobak, wortel, kailan, kangkung, bayam, dll.

image

Ngga terasa waktu sudah menunjukkan pukul 11.30 siang. Sepertinya kami udah cukup puas bermain sambil belajar hari ini.
Alhamdulillah Kirana menikmati waktunya selama di Kuntum Farmfield ini. Anak senang, ayah bundapun riang.