ASI? Semua pasti bisa kok

“Tessa… gw hamil”,

“wowww.. congrats ya sayyyy.. alhamdulillah… trus mau asi kan? lahiran mau normal kan? jangan lupa yaa banyak baca dari sekarang, beli literatur-literatur mengenai kehamilan, asi, menyusui dan teman-temannya, ikut forum-forum di internet yang ngebahas hal-hal tersebut diatas”, komen saya langsung panjang lebar setelah salah satu sahabat saya mengabari bahwa dirinya hamil. Sebut saja namanya Bunga. Yappp.. Bunga, sahabat saya hamil. Bunga ini baru menikah 4 bulan sebelum dinyatakan oleh dokter bahwa dirinya hamil. Jadi termasuk kategori ‘tokcer’ lah ya. Memang dia bilang bahwa pengen langsung punya baby, ga mau nunda-nunda. Okelah.. menurut saya itu hak masing-masing pasangan yang menikah la yaaa. Kalau saya sih dulu pengen nunda dulu dengan dalih pengen ‘pacaran’ dulu, pengen jalan-jalan berdua dulu, pengen ngumpulin duit lebih banyak dulu. Hal-hal yang menurut saya sah-sah aja, karena toh menurut saya jaman sekarang punya anak itu ngga gampang. Ngga mentang-mentang udah sah menurut agama dan hukum negara terus hajar maning bikin anak. karena menurut saya punya anak itu ibadah. Dan ibadah itu harus dilakukan dengan sungguh-sungguh, dengan niat yang tulus ikhlas dan tentu dengan bekal pengetahuan yang cukup dan benar. Hal itulah yang saya dan Fadli terapkan ketika kami memutuskan untuk hamil.

Ketika saya hamil, alhamdulillah saya punya teman-teman yang bisa saling memberikan pengalaman ilmu pengetahuan terkini mulai dari rumah sakit bersalin, obgyn, informasi mengenai ASI, mengenai lahiran normal dll dsb. Kehamilan saya sambut dengan antusias walaupun saat itu agak kaget karena masih mikirnya wow cepet banget ya Tuhan kasih saya hamil dari saya dan Fadli memutuskan untuk hamil. Sekali coba langsung di kasih. Antara cengo dan bahagia. Oke… ini berarti rezeki titipan dari Allah. Karena pada dasarnya saya suka membaca (apa lagi sekarang baca ga harus dari buku aja tapi  dengan bermodalkan jaringan internet, bisa langsung ketik keyword, terbukalah pilihan bacaan yang pengen dibaca di layar komputer. Dari awal kehamilan kami memutuskan untuk memberikan ASI kepada calon bayi kami. Ya… ASI… ngga ada pilihan lain. ASI adalah sumber nutrisi terbaik untuk bayi. Dan saya percaya itu. Kenapa percaya? ya karena Tuhan emang sudah menciptakan sistem dengan sempurna, tinggal manusianya aja yang jalanin. Makin percaya karena saya rajin baca. Mulai dari teori-teori kesehatan mengenai ASI sampai pengalaman-pengalaman ibu-ibu lain di sekitar saya dan diseluruh dunia. Dan singkat cerita, Alhamdulillah saya berhasil menyusui anak saya sampai umur 2 tahun. Yeayyy.. Alhamdulillah, dengan modal ikhlas, semangat dan usaha,, ternyata menyusui itu SANGATTTT menyenangkan bahkan sampai kategori nagih. hihihihi. Semangat menyusui itu bukan cuma semangat niat aja, tapi semangat untuk makan makanan bergizi dan baca buku tentunya.

Oke.. back to the main topic. Tulisan ini sebenernya mau menceritakan tentang pengalaman si Bunga. Dari awal saya dengan gencarnya cerewet banget nyeramahin menyemangati dia untuk sejak awal kehamilan banyak-banyak baca buku dan cari info, kalau perlu konsultasi di klinik laktasi supaya lebih dalam lagi menjiwai ilmu tentang per-ASI-an. Kenapa saya segitu semangatnya? ya karena belajar dari pengalaman sendiri. Saya juga ibu baru, baru pertama kali hamil waktu itu. Dari yang ngga tau apa-apa, sampai jadi tau macem-macem karena saya niat pengen tahu dengan BACA dan NANYA. Dan pada saat prakteknya alhamdulillah ternyata teori-teori dari buku, dari pengalaman orang-orang, dari konsultasi di klinik laktasi, semua bermanfaat. Tapi harus digarisbawahi yaaa, baca buku bukan sembarang baca, tapi diingat dan dipahami, jadi bukan cuma mata aja yang baca terus ga di record di otak. Memang praktek kadang tidak sesuai dengan teori, tapi paling tidak kita udah punya bekal, dan kalaupun ada kendala, kita bisa menggunakan insting kita masing-masing. Sebagai contoh, posisi menyusui untuk masing-masing ibu bisa berbeda-beda, ada yang nyaman sambil duduk, ada yang terbiasa sambil tidur. Selama hal itu membuat nyaman dan sudah dilakukan dengan benar, insya Allah ngga ada hambatan lagi deh.

Singkat cerita, lahirlah bayi si Bunga melalui operasi c sectio dikarenakan umur kehamilan yang sudah lewat 40 minggu dan air ketuban yang menipis katanya. That’s another challenge. Menyusui di awal-awal kelahiran dengan partus c sectio itu punya tantangan tersendiri. Pasca operasi, sang ibu ngga boleh bangun duduk sampai 12 jam sesudah operasi. Terus belajar menyusuinya gimanaaaa?? Ya sambil tidur tentunya. Saya dah pesen-pesen nih sama si Bunga. “Santai aja ya say, operasi cesar ngga jadi kendala untuk langsung bisa menyusui kok. Ya emang posisi belajar menyusuinya jadi lebih rempong karena ngga bisa duduk, tapi tetep bisa kok. Saya waktu itu bisa kok”. (walaupun saya inget banget waktu abis operasi dan mulai belajar menyusui itu stress banget karena belom aja lama balik dari ruang pemulihan ke ruang rawat, udah banyak aja anggota keluarga dan sanak saudara yang antusias menyambut kelahiran anak pertama kami Kirana, alhasil Kirana stress karena baru brojol setelah 9 bulan berada di ruangan yang hangat dan tenang di rahim saya eh ujuk-ujuk langsung denger suara rame kayak pasar gitu dan kami pun ikutan stress karena Kirana nangis-nangis kebelet pengen nyusu tapi ngga bisa-bisa). Tapi dengan semangat belajar yang tinggi, alhamdulillah kami bisa melalui masa-masa sulit itu. Pasca melahirkan saya tanya sama Bunga,

“gimana udah belajar menyusui?”, tanya saya.

“Alhamdulillah udah, tapi ini bekas jahitan sakit banget gini ya? rempong deh”, jawab Bunga.

“ya eyalahh namanya juga perut abis di belek pasti sakit”. jawab saya. Yap… derita abis lahiran sesar itu adalah beberapa jam pasca operasi, disaat pengaruh obat bius mulai hilang datanglah cenat cenut yang sebenarnya dan rasanya luarrr biasa sakitnya. Tapi rasa sakit itu ngga mengurungkan niat saya untuk tetap gigih belajar menyusui loh. Makanya saya bilang kepada Bunga bahwa hal itu bukan alasan. Itu adalah bagian dari ibadah kita kok sebagai seorang ibu, perjuangan melahirkan anak kita.

Lalu Bunga bercerita bahwa payudaranya sempat keras banget sampai sakit dan meriang, istilah medisnya mastitis. Bunga juga bercerita bahwa saking kerasnya tu payudara sampai dia nangis dan akhirnya dibantu oleh suster untuk belajar memerah manual alias teknik marmet. Sebenarnya itu hal-hal yang lumrah dialami oleh ibu-ibu yang baru melahirkan walaupun ada juga ibu-ibu yang ngga terlalu mengalami kendala seperti itu yaaa. Dan sayapun tetap semangat memberi support kepada Bunga supaya jangan putus asa, karena saya yakin dengan niat yang kuat dan ikhlas pasti semuanya jadi mudah. Karena itu yang saya alami sendiri.

Satu minggu telah berlalu dari saat Bunga melahirkan bayinya. Saya, Fadli dan Kirana datang mengunjungi rumahnya karena mendapat amanat untuk mengantarkan kado  dari teman-teman kantor.  Singkat cerita, sayapun mendapat kesempatan menggendong bayi Bunga pada saat Bunga sedang sibuk menerima telpon dari tukang AC yang akan datang untuk pasang AC baru di kamarnya. Begitu saya gendong, saya langsung tahu kalo suhu badan si bayi di atas normal dan warna kulitnya pun kuning.😦. Lalu saya infokan kepada Bunga bahwa badan si bayi anget nih,,, dan cenderung kuning, Itu berarti si bayi kurang asupan cairan. Karena bayi umur seminggu jarang demam loh, dan kalau demam harus benar-benar di cermati. Saya juga sempat melihat cara Bunga menyusui, dan sepengetahuan saya caranya masih salah. Tapi kan saya juga ngga mau jadi orang sok tau dan sok menggurui loh yaaa. Saya cuma bilang dengan bahasa awam bahwa kalo menyusui itu lihat bentuk mulut bayi. Mulut bayi harus monyong dan yang dihisap bukan hanya puting melainkan aerola.  Karena kalau yang dihisap putingnya saja itu akan menyebabkan lecet karena pelekatannya salah. Awal-awal menyusui dulu sih puting saya juga lecet, tapi itu dikarenakan masih dalam fase sama-sama belajar  untuk si baby dan saya. Tapi ketika kita sudah dapat pelekatan yang benar, lecet tersebut berangsur-angsur hilang. Dan pelekatan itu kalo menurut saya bakalan keluar secara naluriah setelah tau teorinya kok.
Namun dari cerita si Bunga, dia itu susah sekali menemukan cara pelekatan yang benar. Akhirnya saya kembali menyarankan untuk konsultasi ke klinik laktasi. Sekarang udah banyak kok rumah sakit yang memiliki poli khusus laktasi. Jadi ngga sulit untuk mendaftarkan diri bertemu dengan para ahli laktasi guna mendapatkan ilmu yang benar. Dan katanya Bunga akhirnya datang ke klinik laktasi di RS St Carolus. Ya.. RS St Carolus terkenal dengan klinik laktasinya. Banyak bidan dan dokter yang dengan sangat baik dan sabar membantu para ibu yang ingin berkonsultasi. Tapi menurut informasi dari Bunga, setelah dia kembali dari konsultasi, dia mengalami kesulitan kembali untuk pelekatan. Hmmphh.. saya mulai gemes dengernya. Ya kok bisa sih? Padahal Bunga bilang payudaranya selalu bengkak sampai rembes, tanda bahwa badannya selalu memproduksi ASI. Jadi kesimpulan saya, Bunga itu kurang pede.

Satu bulan telah berlalu, bayi Bunga genap berusia 1 bulan tentunyaaa. Namun saya dapat kabar dari Bunga bahwa dia telah konsultasi kedua kali nya ke klinik laktasi di RS St Carolus, dan hasilnya tidak begitu memuaskan. Bayi Bunga  hanya naik 300 gram dari awal lahir hingga 1 bulan dikarenakan Bunga salah pelekatannya. Padahal seharusnya kenaikan BB bayi untuk 3 bulan pertama itu antara 650-1000 gram.  Dokternya bilang kalau dalam waktu satu minggu belum naik juga, baby si Bunga harus di tambah susu formula. Huwwaaaaaaaaaaaa…. sedih banget dengernyaaaaa..  Yang bisa saya katakan adalah ayo semangat Bungaaaa.. kamu pasti bisa kokkkk… Tapi Bunga lagi-lagi merasa dia kurang pede. Dia bilang dia pengen ada dokter yang tiap hari datang untuk kasih tahu dan membantu dia melakukan pelekatan yang benar. Hadehhhh.. ya mana ada kaliii yang kayak gitu. Lalu saya sarankan ya udah kalo kayak gitu Bunga harus datang tiap hari ke klinik laktasi untuk latihan intensif pelekatan.  Bunga pun mengungkapkan kesedihan yang mendalam karena dia sampai detik ini belum bisa menemukan cara pelekatan yang benar.. and i’m speechless…

Saat ini saya cuma bisa menyemangati Bunga untuk selalu berfikir positif bahwa menyusui itu adalah hal yang terbaik untuk memenuhi nutrisi bayi dan tidak ada pilihan lain. Tiap hari saya tidak bosan menyapa Bunga dan menanyakan bagaimana kemajuan pelekatan hari ini. Karena saya masih berharap Bunga selalu semangat dan yakin bahwa dia BISA memberikan ASI untuk bayinya sampai dua tahun kelak.

Bunga… SEMANGAT yaaaa!! kamu BISAAAA

 

 

 

 

3 thoughts on “ASI? Semua pasti bisa kok

  1. theadrieans says:

    Tessa, iya yaaa, gw dulu waktu abis lahiran juga sempet ngalamin yang namanya mastitis, sampe gw & rian diajarin sama bagian laktasi di YPK.

    Alhamdulillah bisa sampe 2 tahun kasih ASI, kadang emang gimana mindset kita ya, harus PD, dan emang perlu temen2 kayak lo gitu yang nyemangatin, karena klo berjuang sendiri ga ada yang kasih semangat, bisa2 nyerah duluan.

    semoga temen lo itu makin PD yaaa, jadi bisa semangat kasih ASI nya🙂

      • theadrieans says:

        dulu gw dari 2mgg setelah lahiran lgsg pumping, Tes. trus makan banyak (khususnya sayur2an hijau), karena hind milk nya jadi banyak.

        Gitu aja sih gw dulu, jadi waktu mulai ngantor, stok ASIP gw Alhamdulillah ada kira2 250 kantong (gw pake kantong, bukan botol).

        dan selama ngantor, jadwal pumping 2x, dan pumpingnya langsung kiri-kanan (pake 2 pompa)

        semoga membantu yaa🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s