Mari selalu bersyukur

12 November 2014. Happy birthday, ayah K. Suamiku tercinta, sahabatku, kekasihku, ayah Kirana. Segala doa terbaik kupanjatkan untukmu. Perayaan ultah ayah tahun ini kami adakan di Bali. Ahahah gaya sekali yahh. Alhamdulillah.. Tiap tahun keluarga kami selalu merencanakan liburan ke luar kota
Thanks to Airasia yang selalu kasih jatah kursi gratis tiap tahun ke karyawannya.
Cerita kali ini bukan mau menceritakan detil liburan kami. Tapi mau berbagi cerita yang bikin hati ini tersentil di penghujung masa liburan kami. Jadi gini nih ceritanya..

Tanggal 19 November, kami sekeluarga berlibur ke pulau dewata. Selama liburan 4 hari 3 malam di Bali, overall sih Kirana jadi anak baik. Cuma ada masa dimana dia cranky minta sesuatu sambil merengek atau dikasih tau untuk tidak melakukan suatu hal dia malah makin ngelakuin. Lohh katanya diatas Kirana jadi anak baik?? Wkwk.. Hurghhh.. Hal-hal yang kayak gini yang bikin otak rasanya mau meledak, emosi sampe puncak. Dalam hati saya membatin.. Duh ni anak udah diajak liburan santai di pantai kenapa masih suka ngelunjak sih yaaa? Jitakk juga nih :mrgreen::mrgreen:..
Nada rendah sampe tinggi udah keluar dari mulut ini, kadang berhasil, lebih sering ngga. Yah tapi setelah dipikir lebih dalam pagi, beginilah resiko ngajak anak aktif dan pintar berumur 2 tahun 8 Bulan liburan. Cuma hati ini aja yang sering ga sabaran.

Akhirnya tibalah waktunya kami pulang. Begitu sampai di bandara, kami langsung drop bagasi dan masuk ke boarding gate. Sambil menunggu pesawat boarding, tentunya Kirana berlarian kesana kemari,apalagi bandara Ngurah rai sekarang udah bagus banget, jalanan menuju boarding gate penuh dengan barang-barang menarik yang bisa di beli. Pada saat kami sedang melayani Kirana yang petakilan, nampak pula pemandangan sosok seorang bapak yang sedang melayani anaknya juga. Tapi ada yang beda dari pemandangan tersebut. Anak sang bapak itu umurnya terlihat jauh lebih besar dari Kirana tapi kelakuannya masih seperti anak kecil. Yahh.. Anak tersebut adalah anak berkebutuhan khusus. Sang bapak dengan amat sabar melayani anaknya yang terlihat penasaran melihat ini itu, dan juga mengajak si anak berfoto dengan latar pemandangan laut walau si anak keliatan susah disuruh foto hehehe . Hati saya tersenyum sendiri. Hebat banget bapak ini yahh..
Tidak lama kemudian terdengarlah panggilan untuk boarding. Masuklah kami ke dalam pesawat. Kursi saya dan Kirana terpisah lorong dengan kursi ayah K, dan berharap nanti kalo si penumpang yang duduk sebelah saya mau tukeran, ayah bisa pindah tempat duduk bersama saya dan K. Ternyata sang bapak dan anak yang tadi saya ceritain duduk sebelahan dengan kursi Ayah Kirana. Saat mau masuk ke deretan kursi dekat jendela, sang bapak menuntun anaknya dengan sabar, mengajak si anak untuk berasalaman dengan ayah Kirana. Terlihat sang bapak juga memang ramah sama orang lain, terbukti dengan langsung mengajak ngobrol ayah Kirana.
Penumpang yang duduk sebelah saya juga baik dan ramah sehingga dia mau bertukar kursi dengan ayah K. Begitu melihat bapak n anak tersebut sih tadinya mau saya urungkan saja niat untuk tukar kursi, karena sempat terpikir takut sang bapak tersinggung dan berpikir ayah K gamau duduk sebelahnya karena anaknya berkebutuhan khusus. Tapi ah tidak.. Dia tidak tersinggung.
Setelah bertukar kursi, tak lepas pandangan saya memperhatikan gerak gerik sang bapak dan anak tersebut. Bukan.. Bukan pandangan iba atau merendahkan.. Tapi pandangan kagum luar biasa. Kagum terhadap sang bapak yang selalu sabar melayani anaknya, kagum terhadap sang bapak yang berhati besar dan tidak segan dan malu mengajak ngobrol anaknya dan bersalaman dengan penumpang lain, kagum terhadap sang bapak yang mengajak anaknya yang berkebutuhan khusus tersebut berlibur ke pulau dewata. Tentunya tidak mudah berlibur dengan membawa anak berkebutuhan khusus, tentunya perlu ekstra kesabaran untuk melayani anak tersebut. Ngajak Kirana aja menurut saya perlu kesabaran dan tenaga superrrr.

Seketika meluaplah airmata saya tak terbendung lagi. Airmata ini untuk kekaguman saya terhadap sang bapak, airmata ini untuk mengingatkan saya betapa saya harus bersyukur terhadap kondisi saya dikaruniai anak yang pintar dan tak kurang satu apapun, airmata ini untuk rasa malu saya yang sering tidak sabar melayani Kirana, airmata ini untuk mengingatkan saya supaya harus selalu sabar menghadapi tingkah polah Kirana yang mungkin tidak seberapa bila dibandingkan sang bapak harus mengajarkan dan membimbing anaknya tersebut. Sungguh mulia sang bapak di hadapan Allah. Pastinya Allah menunjuk orang-orang terpilih untuk diberikan kesabaran luar biasa dan hati ikhlas yang luar biasa juga.

Memang selalu ada moment untuk bersyukur yah. Bersyukur untuk segala karunia yang Allah udah kasih selama ini, yang sering kali kita lupa, sering kali kita merasa kurang kurang dan kurang. Padahal ternyata Allah udah kasih kita lebih dari yang kita butuhkan.

Mari selalu bersyukur!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s